Kodim 0818-Tradisi Ritual Ruwatan masih dilestarikan di Kabupaten Malang sampai saat ini, dengan berpijak pada nilai-nilai keluhuran masa lalu tradisi ruwat menjadi sarana untuk meminta keselamatan, keberkahan kepada Tuhan atas berbagai petaka yang menimpa, bisa berupa bencana yang menimpa diri sendiri, lingkungan maupun dalam skala wilayah.

Dalam beberapa literatur, kata ruwatan berasal dari kata ruwat artinya bebas, lepas. Kata Mangruwat atau Ngruwat artinya membebaskan, melepaskan. Dalam Tradisi Hindu melakukan pengruwatan dipilih makhluk yang hidup mulia dan bahagia, akan tetapi belakangan terjadi perubahan nilai yang kemudian berubah menjadi hina dan sengsara, sehingga bagi mereka yang hidup sengsara atau hina itu harus diruwat artinya dibebaskan atau dilepaskan dari hidup sengsara.  

Acara Rumatan di Desa/Kec. Sumberpucung

Masyarakat Kabupaten Malang pun masih memegang ritual atau tradisi ruwatan tersebut. Hal ini terlihat dari acara Ruwat Agung Bumi Nusantara Memayu Hayuning Bawana 2019 dengan bertempat di Padepokan Kawruh Jowo lugu mangir No 1 Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung. Acara Ruwat Agung Bumi Nusantara yang dihadiri oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Muspika Kecamatan, budayawan serta masyarakat sekitar Sumberpucung, tidak jauh dari tradisi ruwat yang telah ada sejak jawa kuno. 

Sambutan Danramil 0818/ 06 Sumberpucung Kapten Inf Sapardi

” Ruwat Agung Bumi Nusantara ini dalam upaya meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh kebaikan tercurah kepada masyarakat Kabupaten Malang pada umumnya. Juga kepada jalannya seluruh program pemerintah Kabupaten tahun depan. Diperlancar, dijauhkan dari berbagai malapetaka serta hal buruk lainnya,” kata Bpk M sholeh camat sumberpucung, minggu (29/09/2019). Selain sebagai ruang berdoa untuk membangun harapan yang sama di wilayah Kabupaten Malang, Ruwat Lawang juga merupakan ikhtiar terus menerus Pemkab Malang untuk melestarikan tradisi dan budaya masyarakat Jawa pada umumnya. 

Pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Bayu Sasongko yang akan membawa lakon Semar Bangun Kayangan.

Ditempat terpisah Danramil 0818/ 06 Sumberpucung Kapten Inf Sapardi mengatakan ” Kita tidak bisa meninggalkan berbagai peninggalan luhur masa lalu. Bangsa yang besar adalah yang berani untuk terus berpijak pada nilai luhur masa lalu untuk kemajuan masa depan. Ini pula kenapa Ruwat Agung Bumi Nusantara ini juga di selenggarakan di Padepokan Kawruh Jowo Lugu Mangir No 1 Desa Sumberpucung,” ungkapnya.

Dalam acara yang juga menampilkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Bayu Sasongko yang akan membawa lakon Semar Bangun Kayangan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here