Kodim 0818-Penetapan Hari Santri Nasional dideklarasikan oleh Presiden Joko Widodo di Masjid Istiqlal, Jakarta pada tanggal 22 Oktober 3 tahun silam (22/10/15). Tahun ini, menjadi tahun keempat Hari Santri Nasional. Tentu banyak doa dan harapan bagi para santri di Tanah Air.

Bertempat di Lapangan Sepak bola Ngasem Desa Ngasem Kec. Ngajum Kab. Malang dilaksanakan Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-4 dengan Tema “Bersama Santri Damailah Negeri” yang diikuti ribuan santriwan dan santriwati se-Kecamatan Ngajum.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Komandan Koramil 0818/ 09 Ngajum Kapten Arh Pitono beserta Anggota, Kapolsek Ngajum AKP Farid Fatoni beserta Anggota, Camat Ngajum Bapak Tito Fibrianto HP S.Sos,MAP, Pengasuh Ponpes se-Kec. Ngajum, Kepala Sekolah se-Kec. Ngajum, serta Santriwan/ satriwati berjumlah 1000 orang.

Kec. Ngajum
Tamu undangan pada acara Hari Santri tahun 2018 di Kecamatan Ngajum

Pejabat Upacara peringatan Hari Santri ke-4 Tahun 2018 Kec. Ngajum antara lain:

1. Pembina upacara : KH. Muhaimin (Ketua Rois Suriyah NU Kec. Ngajum).
2. Pemimpin upacara : Sholikal Hadi S.Pd.i (Ketua PAC GP Ansor Kec. Ngajum).
3. Pengibar Bendera Merah Putih : Santri Riyadlul Qur’an.

Dalam rangkaian upacara bendera ada Pembacaan Teks Pancasila, UUD 1945, namun yang berbeda adalah pembacaan Ikrar Santri, dan Pembacaan Resolusi Jihad oleh Ipda Suhardi (Wakapolsek Ngajum).

Amanat Pembina upacara KH. Muhaimin (Ketua Rois Suriyah NU Kec. Ngajum) mengatakan “bahwa pada hari ini tepatnya 4 tahun yang lalu Presiden Ir. Joko Widodo memberi keputusan bersejarah yang menyangkut dengan adanya Hari Santri Nasional, Saat ini warga NU mengekspresikan tentang perjuangan NU dalam merebut Kemerdekaan Republik Indonesia, dan juga Fardu ‘ain bagi Kaum pria maupun wanita NU dalam Resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan, Santri-santri berdiri di garda depan untuk menangkal dari berbagai ancaman dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”,ujarnya.

“NKRI adalah negara bangsa dengan tidak mendiskriminasikan golongan juga tidak membedakan Ras, Golongan dan Agama, dan Hari Santri digunakan sebagai ke-eksisan NU dalam menangkal segala ancaman baik dari bahaya Narkoba maupun pihak yang akan mengrorong Kedaulatan NKRI”, tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Komandan Koramil 0818/ 09 Ngajum Kapten Arh Pitono ditempat terpisah mengatakan “bahwa yang mendasari peringatan hari santri ini yakni berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan” ujarnya.

“Kiprah ulama dan santri pada masa perjuangan tidak terlepas dari Resolusi Jihad NU yang di kumandangkan Syeikh KH. Hasyim Asy’ari (Bapak pendiri NU), pada tanggal 22 Oktober 1945. Di depan konsul-konsul Nahdlatul Ulama se-Jawa dan Madura yang berpusat di Kantor Nahdlatul Ulama di Surabaya, Fatwa Resolusi Jihad NU ini digaung -kan dengan pidato Syeikh KH. Hasyim Asy’ari yang menggetarkan Semangat Jihad para pejuang menghadapi bala tentara Inggris yang mendarat di Surabaya yang didalamnya terdapat tentara Belanda (NICA) yang ingin kembali menguasai Indonesia”,tandasnya diakhir acara.

Isi Resolusi Jihad NU 

“Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu a‘in (yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersendjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada diluar djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu jadi fardhu kifayah (yang cukup kalau dikerjakan sebagian saja.”

Inilah yang mendasari terjadinya peristiwa perang 10 November di Surabaya yang hingga saat ini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Berikut kiprah dan peran santri dari masa ke masa dalam mengokohkan tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

Tahapan dalam sebelum tercetusnya Resolusi Jihad NU

Tahun 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Darus Salam. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila.

Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlaruri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/ TII sebagai bughat yang harus diperangi.

Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme.

Tahun 1983/ 1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional (mu’ahadah wathaniyyah).

Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa bukan negara agama, bukan negara suku yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan.

Koramil Ngajum

Antusiasme para Santri mengikuti Upacara peringatan hari Santri di Kecamatan NgajumKenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasâmuh), proporsional (tawâzun), lurus (i’tidâl), dan wajar (iqtishâd), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang.

Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah.  Momentum Hari Santri hari ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “Nasionalisme bagian dari iman” (حب الوطن من الايمان) perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. 

Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan. Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialisme dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq.

Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.

Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoax.

Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama, jiwa, nalar, harta, keluarga, dan martabat seseorang. Inilah renungan bagi kita semua dan kaum santri sebagai bekal menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. 

Upacara diakhiri dengan pembacaan Doa dipimpin oleh KH Imam Darmuji (Pengasuh Ponpes Riudlotut Thoulabah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here