Sejarah Kodim 0818

Markas Kodim 0818
Markas Komando Distrik Militer 0818

Perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah Belanda di wilayah Kabupaten Malang dan Kota Batu mempunyai tujuan Nasional yaitu terwujudnya cita-cita dan tekad keprajuritan rakyat Indonesia demi terciptanya masyarakat dan bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat adil dan makmur yang berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Perjuangan melawan penjajah yang dilakukan oleh TNI bersama-sama rakyat khususnya di wilayah Kabupaten Malang diantaranya adalah:

1. Periode tahun 1945
Perjuangan masyarakat Donomulyo dalam melawan penjajahan Belanda dilakukan dengan membentuk organisasi kemasyarakatan diantaranya PMI, PNI, PNU, PKRI, dan PKI. Organisasi tersebut dipersiapkan untuk berjuang melawan penjajahan Belanda pada saat itu, pertempuran terjadi disekitar pasar Donomulyo hingga penjajah Belanda dapat dikalahkan, untuk mengenang peristiwa tersebut maka masyarakat Donomulyo mendirikan Tugu peringatan kemerdekaan yang ditempatkan di depan pasar Donomulyo.

2. Periode tahun 1946 (Agresi Militer Belanda I)
Di wilayah Kalipare untuk menghadapi adanya kemungkinan serangan balasan dari pihak penjajah, maka diatur siasat pertahanan yang diberi nama Laskar Pertahanan Asistenan (LPA), disamping mengadakan siasat Pertahanan juga melakukan kegiatan-kegiatan sabotase-sabotase pembumi hangusan pabrik-pabrik perkebunan karet dan perkebunan kopi milik Belanda yang berada di Kalipare.

3. Periode tahun 1948
a. Situasi politik dalam negeri menghangat, PKI merampas kekuasaan pemerintah yang syah didaerah Donomulyo dengan menawan camat, Mantri Polisi dan staf Kepala Desa. PKI menguasai pemerintahan Donomulyo selama 3 hari 3 malam dengan mengadakan aksi serangan dan pelucutan senjata markas CPM di Donomulyo dan markas TNI di Ngliyep dan melaksanakan serangan di desa Kedungsalam. Selama Berkuasa di Donomulyo PKI mendapat serangan balasan dari pasukan DEPO dari jurusan utara dan pasukan Brimob dari jurusan Timur, pertempuan terjadi mulai pukul : 12.00 s/d 13.00 selanjutnya PKI melarikan diri kearah barat (daerah Wates/ Blitar). Setelah kejadian tersebut TNI dikerahkan untuk menduduki Donomulyo dan sekitarnya dengan melakukan operasi secara terus menerus, akhirnya dapat menagkap pimpinan PKI Tjokro Bagong Cs kemudian ditawan di Kepanjen, dengan dibantu pasukan Brimob keamanan dapat dipulihkan dan selanjutnya pemerintahan yang syah dapat berjalan kembali.

b. Pada tahun yang sama 1948 terjadi Pertempuran melawan tentara NICA Belanda pada tahun (Peristiwa di daerah Kali Jahe Jabung). Pertempuran ini terjadi pada saat (agresi Militer belanda II) dimana pada saat itu Tentara NICA Belanda telah menguasai sektor pertempuran, sedangkan pasukan TNI sebanyak 2 Kompi ± 300 orang yang diberi nama pasukan wanara tertipu oleh 3 (tiga) orang mata-mata yang telah menghalang-halangi gerak maju pasukan Wanara, akibat penghkhianatan mata-mata tersebut terjadi serangan mendadak dari pihak Belanda sehingga jatuh korban yang tidak sedikit di pihak TNI, dalam keadaan terdesak TNI yang tidak mengenal menyerah tetap berjuang melawan penjajah, dengan perbandingan musuh dengan TNI 2:1 serangan musuh dapat dipatahkan dan Belanda mengundurkan diri ke arah timur wilayah Nongkojajar, suatu pengorbanan yang tidak sia-sia dari TNI dan masyarakat karena pertempuran dapat dimenangkan, suatu bukti bahwa bersama Rakyat TNI kuat, hebat dan professional.

Peristiwa Mendalan

a. Persiapan TNI setelah jatuhnya Kota Malang

1) Setelah Malang dan Batu diduduki Belanda maka pertahanan TNI berada digaris sepanjang Desa Sebaluh (Pujon) yang dikoordinir oleh Mayor Abdulmanan, dan dibantu oleh pasukan-pasukan dari BN yang dipimpin oleh Soenandar, BN, Isa Idris dan pasukan Kolonel Dr. Mustopo, sejak itulah mendalan (Wagir) tampak sebagai Obyek Vital dan strategis yang terletak ± 40 Km dari garis pertahanan.

2) Melalui berbagai pertimbangan strategis maka mendalan dijadikan suatu daerah istimewa dan dipersiapkan alat–alat peledak untuk dihancurkan bila direbut oleh pihak musuh. Pimpinan daerah yang istimewa mendalan pada saat itu adalah Letnan Soemadi Komandan Kompi-3 dari Bn. Soenandar, yang bertugas melaksanakan penghancuran bila Belanda merebut tempat ini, dan daerah ini dipakai juga sebagai basis dari Kompi Soemadi, mengingat Kompi ini disamping bertugas di Mendalan juga bertugas di garis depan Pujon.

b. Kisah Serangan

1) Kedudukan pertahanan TNI pada waktu itu adalah :

– Front Pujon : Dpp. Bn. Abdulmanan
– Daerah Kawedanan : Dpp. Sabarudin
– Daerah Ngantang : Dpp. Bn. Soenandar
– Daerah Mendalan : Dpp. Kompi Soemadi
– Daerah Kandangan : Dpp. Kompi Sutrisno

2) Pada tanggal 19–12–1948 Belanda bermalam di Desa Pakan dan tanggal 20–12–1948 bergerak menuju ke arah barat menuju Desa Benu dan Srono, untuk menghambat gerak pasukan Belanda penyerangan selalu dilancarkan oleh pasukan dari Kompi Rono Pradopo dan Kompi Soebari dan Bn. Sabarudin serta kompi mistar dari Bn. Sunandar yang berada di Ngantang, tetapi Belanda selalu berhasil menghindarinya, hanya sekali waktu Belanda mengerahkan sebagian kecil pasukannya sebagai serangan balasan dan tetap melanjutkan gerakan agresinya.

3) Pada tanggal 21–12–1948 saat fajar terjadi pertempuran besar selama 2 jam pasukan TNI mengadakan perlawanan terhadap Belanda yang mengerahkan seluruh kekuatannya, akibat kalah jumlah pasukan TNI mundur dan membuat pertahanan di bukit Mendalan. Dua seksi Kompi Soemadi dipersiapkan menghadapi pesawat musuh yang sedang membantu musuh diatas wilayah mendalan, sedangkan seksi pioner menyiapkan bahan peledak dan siap menunggu perintah untuk meledakkan mendalan. Pada saat itulah Belanda mengadakan serangan terhadap kedudukan TNI dengan formasi frontal, tetapi pasukan TNI dengan gagah berani melawan serangan Belanda, tidak ketinggalan ratusan pemuda ikut bertempur bersama TNI di bawah pimpinan Kepala Kampung Bapak Wongso Astro.

a) Pada saat kritis ini datang bantuan pasukan dipimpin Mayor Kadim Prawiro Dirdjo, Letnan Soemadi kemudian melaporkan segala keadaan pertempuran juga rencana penghancuran dan pengunduran pasukan, setelah mendapatkan laporan, Beliau kembali dan meninggalkan pesan:

“Selamat Bertempur dan laksanakan semua rencana dengan baik”

akhirnya tepat pada tanggal 21–12–1948 jam 11.00 Letnan Soemadi memerintahkan seksi pioner untuk meledakkan semua bom yang telah terpasang untuk mematahkan moril musuh agar mendalan tidak dapat dikuasai oleh Belanda karena sudah dibumi hangguskan oleh Pasukan TNI, namun Belanda tetap mendudukinya mendalan yang telah dibumi hanguskan pasukan TNI dan rakyat mendalan.

b) Tanggal 25–12–1948 jam 24.00 diadakan serangan umum ke wilayah Mendalan yang telah diduduki oleh Belanda, serangan dipimpin oleh Letnan Soemadi, dengan dibantu oleh pasukan yang terdiri dari Kompi Mistar yang bergerak dari jurusan Ngantang melalui Gunung Luksongo, kompi Kasiin Bergerak dari sebelah Barat Sungai Konto, sedangkan Kompi Soemadi sendiri bergerak dari arah jalan Kasembon. Serangan ini bukan bertujuan bukan sekedar untuk merebut kembali Mendalan tetapi bermaksud untuk menghancurkan musuh (Belanda).

c) Tanggal 26–12–1948 jam 03.00 Kompi Letnan Soemadi berhasil memasuki daerah pabrik Mendalan bersama seksi yang dipimpin Soediarto, sedangkan semua pasukan yang lainya gagal dan tidak sampai memasuki mendalan. Belanda melancarkan serangan balasan terhadap seksi Soediarto yang pada saat itu dalam keadaan terdesak. Karena Posisi pasukan yang terjepit maka terjadilah pertempuran perorangan sampai jam 05.00 sehingga dari kedua belah pihak jatuh korban yang sangat banyak. Dalam pertempuran tersebut korban yang jatuh sebanyak 30 orang terdiri dari Kompi Soemadi dan Kompi Mistar, Letnan Soediarto dan 2 anggotanya serta 2 anggota dari Kompi Mistar termasuk kepala Kampung Wongso Bapak Wongso Astro turut gugur dalam pertempuran, namun pemuda Mendalan tetap semangat dan aktif membantu Kompi Soemadi, sedangkan yang lainnya mendapat tugas untuk mengungsikan semua rakyat dari Mendalan. Rakyat disekitar Kepung, Kandangan, Kasembon dan Bayem turut aktif membantu dengan memberi makan kepada TNI dan membantu mengadakan penjagaan.

Disini, Kita dapat melihat bahwa perjuangan TNI bersama rakyat di Wilayah Kab. Malang dan Batu mempunyai peran serta yang sangat besar sehingga rakyat Indonesia dapat terlepas dari belenggu penjajahan Belanda demi kelangsungan hidup dan membangun Negeri Republik Indonesia tercinta.

Terbentuknya Komando Teritorial

Dengan hasil perjuangan TNI bersama seluruh rakyat Indonesia maka pada akhir tahun 1948 terbentuklah Komando Teritorial mulai tingkat Desa, Kecamatan, sampai dengan tingkat Kabupaten. Pada saat itu Komandan Brigade IV Letkol Dr. Soeyono menjabat sebagai Komandan Distrik Militer Kab. Malang yang saat itu berkedudukan di Gondanglegi, sebelum agresi militer belanda ke II Comando Distrik Militer (CDM) pindah ke Kepanjen dan ke Bantur, perpindahan ini dilaksanakan dalam rangka menghadapi adanya kemungkinan musuh yang akan mengingkari perjanjian yang telah disepakati (agresi militer II). Pada pertengahan tahun 1949 Komando Distrik Militer (KDM) Kab. Malang mulai aktif melakanakan kegiatan dengan cara mempersiapkan logistik pasukan tempur dan mengintesifkan Bin Wanra serta menyelengarakan pemerintahan dimana terdapat kekosongan Pemerintahan sipil, saat itu pada umumnya Pemerintahan yang menyerahkan sebagian besar wewenangnya kepada KDM/CDM sedangkan Pemerintahan sipil ikut bergerak kemana Kesatuan tempur berpindah-pindah. Menghadapi masa Clash ke-II ini semua golongan partai politik dan masyarakat yang berada di wilayah KDM Kab. Malang mendukung penuh membantu KDM.

Pada bulan Desember 1949 setelah terjadi penghentian tembak menembak dengan belanda yang menyerah, KDM Kab. Malang Berkedudukan di jalan Betek Malang yang kemudian sekarang berubah nama menjadi Komando Distrik Milter 0818/Kab. Malang, Setelah penyerahan kedaulatan dari pihak Belanda tersebut, semua kekuasaan Pemerintahan Sipil pada masa Clash–II sebagian besar penyelengaraannya yang sebelumnya dilakukan oleh militer (KDM) diserahkan kembali kepada pemerintahan Sipil

Tahun 1950 personil TNI yang tidak masuk formasi organik dikirim ke Traning Center di Batu dan CTN di Kepanjen. Antara tahun 1951 s/d 1952 dilakukan Ops Kam Wil terhadap Pasukan-pasukan gerilya non organisasi yang menjadi pasukan liar dengan melakukan perampokan-perampokan didesa, mereka tidak termasuk organisasi Militer maupun politik dan dikenal dengan nama Barisan Sakit Hati (BSH) terdiri dari orang-orang yang intropenden. Setelah selesai melaksanakan operasi terhadap BSH, selanjutnya Kodim melaksanakan konsolidasi (penyempurnaan personel). Dalam rangka penyempurnakan organisasi personel KDM Kab. Malang secara aktif mengikut sertakan anggota-angotanya tergabung dalam pendidikan/latihan-latihan.

1. Pada tahun 1951 mengirimkan Bintara bintaranya kependidikan KBT/SKI dalam setiap Lichting.
2. Pada tahun 1954 mengirimkan Perwira-perwiranya kependidikan PST (Perwira Sub Teritorial)

Sejak tahun 1970 Kodim 0818 telah mengadakan kegiatan-kegiatan untuk mencukupi kebutuhan personel terutama pejabat Babinsa. Pada tahun 1970 yang semula tenaga Babinsa sangat terbatas, seorang Pejabat Babinsa membina 2 s.d 3 Desa, untuk memenuhi target agar tiap–tiap desa harus ada seorang petugas Babinsa, maka selain mendapat droping tenaga penugasan dari Satpur kekurangan-kekurangan tersebut oleh Kodim diusahakan diisi oleh TNI yang sudah purnawirawan/MPP dan tenaga Veteran secara suka rela. Pada Tahun yang sama bertempat di Dolaksus Singosari Kodim 0818 mengikut sertakan personelnya untuk mengikuti kursus-kursus yang personilnya berasal dari tiap-tiap dukuh dengan persyaratan mental Idiologinya harus benar–benar Pancasilais, kedua serendah–rendahnya harus SD IV/V tahun. Lamanya pendidikan tiap-tiap lichting 1 minggu, kursus ini berjalan sampai 4 lichting. Dalam rangka menyukseskan pemilu 1971 Kodim 0818 bersama pemerintah daerah mengadakan penerangan-penerangan pemantapan jiwa Pancasila kedaerah–daerah/desa–desa yang Kepala desanya tersangkut G30S/PKI.

Operasi-operasi yang pernah dilakukan Kodim 0818 Kab. Malang antara lain:

1. Tahun 1956 pada waktu itu masih CDM, pada setiap penugasan Yonif-Yonif keluar daerah Ter-V (Kodam VIII /Brawijaya) selalu membantu mengirim personil Ter-nya baik tugas ke Sulawesi, Ambon dan lain-lain.

2. Pengordebaruan daerah sesuai Prin ops 002/1967 tanggal 15 September 1967.

3. Operasi Pancasila Bantur terhadap perampokan sapi/ternak.

d. Operasi Trisula sesuai Prinops 04/1968 tanggal 4 September 1968 didaerah Kalipare, Donomulyo dan Pagak.

4. Operasi penghancuran sisa-sisa G.30S/PKI sesuai Prinops Rem 083 nomor 03 tanggal 04 September 1968.

5. Gerakan pagar betis diluar daerah operasi Trisula (Vide pedoman pelaksanaan pagar betis) . Anex operasi Trisula.

6. Operasi pembinaan wilayah sebagai lanjutan operasi Trisula Prinops 64/1968 tanggal 4 September 1968.

Sejak Bulan September 2015 Markas Kodim 0818 pindah ke pusat pemerintahan Kabupaten Malang di Kepanjen

Demikian sejarah berdirinya Komando Distrik Militer 0818/Wil. Malang-Batu dibuat untuk dapat digunakan sebagai gambaran dan informasi tentang kegiatan fisik maupun non fisik TNI terutama Kodim 0818/Wil. Malang-Batu bersama–sama rakyat mulai sebelum Proklamasi sampai dengan sekarang, sejarah telah membuktikan bahwa bersama Rakyat TNI kuat, hebat dan Professional.